Mbah Wiki bilang, setiap kejadian yang melanggar peraturan pertandingan tanpa persinggungan fisik di cabor Bolabasket dikenal dengan istilah Technical foul. Di Peraturan Fiba sudah sangat jelas dijabarkan dari definisi sampai dengan hukumannya. Namun justru karena tanpa persinggungan fisik inilah yang beberapa pikir malah menjadi sangat tipis perlu atau tidaknya aturan dan hukumannya. Dan juga sangat besar hubungan sebab dan akibatnya dengan call wasit sebelumnya. Beberapa malah mengatakan bahwa aturan ini dipakai sebagai senjata bagi para pengadil lepas protes pelatih mengikuti sebuah bad call, no call atau missed call.
Idenya..
Agar supaya pertandingan berjalan dengan sepatutnya, dibutuhkan kerjasama yang baik antar semua yang terlibat. Setiap tim harus berusaha sekuat tenaga untuk memastikan kemenangan, tetapi ini harus dilakukan dalam kerangka semangat sportifitas dan keadilan. Setiap usaha yang dengan sengaja atau dilakukan berulang tanpa mengikuti semangat dari peraturan bolabasket akan dianggap sebuah pelanggaran teknis atau technical foul.
Wasit dapat mencegah pelanggaran teknis dengan memberikan peringatan sebelumnya. Atau bahkan mengabaikan pelanggaran kecil yang jelas-jelas tidak sengaja atau malah tidak mempengaruhi jalannya pertandingan. Kecuali dilakukan berulang setelah diberikan peringatan. Dengan begini pertandingan diharapkan akan menjadi lebih baik dan tidak ada faktor lain yang menentukan kemenangan atau kekalahan dari sebuah pertandingan selain daripada pertandingan itu sendiri. Baik sekali.
Masalahnya..
Pertama-tama pemain juga akan mempunyai pikiran yang sama dengan saya (sekarang pelatih), saya tahu karena saat masih menjadi pemain kerap menghadapi situasi ini dan tidak terkena technical foul, hampir terkena (diperingati) dan dikenakan tech foul. Tapi saya bersyukur ketika melatih, saya tidak ingat ada pemain saya yg dikenakan foul macam ini. Kalau ada pasti maksimal 2 pemain dalam 20 tahunan melatih. Saya selalu bilang kalau tugas mereka itu bermain dan bersenang di lapangan. Kalau memang ada yang ingin kalian tanya, lakukan dengan segala hormat dan kepatutan terhadap pengadil di lapangan kayu. Karena wasit adalah juga manusia, tempatnya salah. Kita semua manusia, bukan?
Di lapangan kayu yang sama inilah terjadi segala hal yang lebih kurang mempengaruhi kemungkinan menang atau kalah sebuah tim. Di atas sudah tertulis bahwa kalau ada pelanggaran teknis tidak sengaja atau tidak mempengaruhi jalannya pertandingan, mungkin tidak akan di-call wasit. Kalau dilakukan berulang dan hal itu pasti mengganggu pertandingan, Call!
Satu hal yang cabor, wasit, komisi pertandingan, liga dan federasi tidak boleh lupa untuk disadari. Kalau miss call, bad call dan bad no call dilakukan berulang, tentu akan mempengaruhi hasil sebuah pertandingan. Atau tidak berulang tapi terjadi pada saat yang paling penting di pertandingan. Hingga evaluasi dan evaluasi lagi wasit oleh liga adalah keharusan.
Apa yang diharapkan atau apa yang bisa dilakukan para pelatih di sebuah pertandingan kala situasi di atas terjadi? Diam saja dan duduk bersila ala yogi sambil pesan kopi panas secangkir! (Mendadak kangen kopinya mbok Jum..)
Biasanya secangkir pertanyaan akan dilontarkan ke pengadil, mempertanyakan. Atau bahkan mungkin pada saat yang bersamaan akan meneriakkan sesuatu yang luput dilihat pengadil di lapangan. Dengan harapan wasit akan melihat situasi tertentu dan memanggilnya.
Disinilah masalah paling banyak bagi para pelatih. Pada prosesnya semua yang di atas sangat memungkinkan si pelatih melanggar aturan. Dari suara dan nada ucapannya, dari bahasa tubuhnya dan belum lagi garis itu tuh, aduh tuh garis! Memang seharusnya para pelatih bisa menahan emosi ini semua, (Harus bisa Ocky, harus bisa Ocky, harus bisa Ocky.. ulangi mantra ini 1808 kali lagi dalam hati) tapi ini tidak mudah bagi pelatih paling hebat dan berpengalaman kelas dunia mana pun. Fakta.
Lalu pengadil yang bingung terkena egonya, merasa dipertanyakan call yang sudah dia buat, PRRRRIIIIITTT!!! Tanda huruf “T” di depan muka. Lawan dapat satu FT dan kepemilikan bola. Tambah rugi lagi sebuah tim yang kebetulan berada pada posisi itu. Saya pikir hal seperti ini sangat mempengaruhi hasil akhir sebuah pertandingan.
Hanya sebuah contoh kecil dari “T” yang sangat berkuasa. Lalu si pelatih pulang dengan kekalahan timnya yang akan diingat selamanya. Dan si pengadil bahkan sudah tidak ingat ada apa pada saat itu ketika ditanya beberapa hari kemudian. Atau bahkan ada pengadil yang begitu pertandingan selesai ditanya di luar arena mengenai hal tadi, menolak untuk membahasnya.
Apakah call tech foul yang wasit bikin itu membuat pertandingan menjadi lebih baik? Atau hanya untuk menyelamatkan harga diri, ego atau apapun itu?
Pada tahun 2007 saat San Antonio bermain melawan Dallas, Pemain Spurs Tim Duncan dikenakan tech foul karena menertawakan wasit Joe Crawford dari bangku cadangan. Karena sebelumnya dia sudah terkena tech foul dengan situasi yang sama dari bench juga, maka dia harus keluar atau ejected dari pertandingan. Setelah ditilik ulang lebih lanjut oleh liga, technical foul ini tidak sesuai dengan manajemen permainan liga. David Stern akhirnya mengenakan sangsi pada wasit tersebut selama sisa musim tidak boleh memimpin pertandingan. Dan Tim Duncan dikenakan 25.000 dollar Amerika. Pertandingan menjadi lebih baik? Siapa yang dirugikan pada insiden lucu itu?
Solusi..
Sepintas memang aturan ini (Yang berhubungan dengan pelatih) lebih kepada mental masing-masing pihak. Wasit memberikan tech karena dipertanyakan callnya, ada perasaan terlibat disitu. Tersinggung, malu, merasa bersalah, mungkin. Saya tidak begitu yakin karena saya belum pernah berprofesi sebagai wasit. Pelatih pun demikian, pasti melibatkan mental dan emosinya ketika call wasit dianggapnya tidak tepat atau merugikan.
Lalu ketika technical foul dipanggil, keduanya tetap merasa paling benar saat itu. Saya tahu banyak call yang salah yang mendahului tindakan berlebih pelatih mana saja di dunia ini. Lalu siapa yang paling pantas melakukan penghakiman bagi pengadil ini (Dan atau pelatih) tanpa harus ada sebuah game yang dikorbankan.
Seperti cerita 2007 silam di atas, toh nanti liga pasti bisa meneliti lebih lanjut. Lalu kenapa pelatih harus sok dan angkuh yakin bahwa beliau yang paling benar dalam situasi tertentu itu.
Atau sebaliknya kenapa wasit harus memberikan tech foul pada pelatih yang bereaksi lebih, hingga timnya dirugikan 1 FT dan kepemilikan bola untuk lawan? Padahal bisa saja reaksi lebih pelatih sok itu dikarenakan memang call pengadil yang sebelumnya ngaco! Sudah salah call di awal, lalu kasih tech foul lagi. Salah dua kali..
Hapuskan kuasa wasit memberikan technical foul pada pelatih dalam pertandingan, liga review tiap kelakuan pelatih dipinggir lapangan yang berlebih atau tidak menjunjung tinggi nilai-nilai olahraga ini yang sangat sportif. Kalau memang salah satunya bermasalah, bisa dikenakan sangsi. Kalau dengan penelitian ulang memang wasit tertentu banyak melakukan kesalahan berulang, beri dia peringatan dan urutan-urutan sangsinya.
Kalau pelatih yang sok gaya sombong tidak mentaati peraturan pertandingan, kurang ajar terhadap pengadil, usai review, beri denda sekian persen dari pendapatannya. Kalau berulang, cabut izin melatihnya.
Sehingga situasi-situasi di atas tidak akan mengganggu jalannya pertandingan. Dengan ini diharapkan hasil permainan akan betul-betul murni sebuah usaha tim dan pemain dari latihan sampai pada detik paling akhir di sebuah pertandingan final.

